Dalam ibadah akhir tahun kami di Hikmat Ministry, Tuhan menyatakan kepada saya bahwa kenaikan harga masih akan terus terjadi. Dan ternyata, hal itu benar-benar terwujud. Bahkan di awal tahun ini saja, kita sudah menyaksikan harga beberapa kebutuhan pokok melonjak cukup tajam. Dampaknya terasa langsung—biaya hidup semakin meningkat, sementara daya beli uang yang kita miliki justru semakin menurun.
Tragisnya, di awal tahun ini pula, kenaikan harga tersebut telah “memakan korban”. Seorang kepala rumah tangga nekat mengakhiri hidupnya karena tidak sanggup menanggung tekanan ekonomi yang kian berat.
Pengkotbah 10:19, "Untuk tertawa orang menghidangkan makanan; anggur meriangkan hidup dan uang memungkinkan semuanya itu."
Ketika harga kebutuhan pokok meningkat, banyak orang terdorong untuk bekerja lebih keras demi mendapatkan uang lebih banyak. Bahkan, tidak sedikit orang yang pada dasarnya baik, akhirnya tergelincir dan melakukan hal yang tidak benar demi memenuhi kebutuhan hidup anak dan istri mereka. Memang, seperti yang tersirat dalam ayat diatas, uang memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sekaligus memberikan kesenangan dalam hidup. Namun sayangnya, banyak dari kita kemudian memandang uang sebagai sumber kehidupan—seolah-olah tanpa uang, kebutuhan tidak akan pernah tercukupi.
Padahal, yang seharusnya semakin kita tanamkan dalam hati adalah bahwa uang bukanlah sumber kehidupan. Tuhanlah satu-satunya sumber kehidupan yang sejati. Ia sanggup mencukupkan kebutuhan kita, bahkan ketika dompet kita kosong. Sering kali kita lupa bahwa uang yang ada di tangan kita pun pada dasarnya berasal dari Tuhan.
Menariknya, dalam berbagai kisah nyata di Alkitab, ketika Tuhan mencukupi kebutuhan seseorang, Ia tidak selalu melakukannya melalui uang. Salah satu contohnya adalah kisah nabi Elia. Saat Tuhan memenuhi kebutuhannya, Ia tidak mengirim seseorang untuk memberikan uang agar Elia bisa membeli makanan, melainkan langsung menyediakan makanan berupa roti dan daging.
1 Raja-raja 17:6, "Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu."
Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok saat ini, jika kita masih menganggap bahwa uang adalah sumber kehidupan, kita justru akan mudah kelelahan karena terus merasa harus “mengejar” uang tanpa henti. Karena itu, ketika kita membutuhkan sesuatu, jangan biarkan pikiran tentang uang selalu menjadi hal pertama yang muncul di benak kita. Tetaplah belajar bergantung pada Tuhan, bahkan saat kondisi dompet sedang kosong sekalipun. Ketika Anda berdoa dan menyerahkan kebutuhan kepada-Nya, peliharalah keyakinan bahwa Tuhan sanggup mencukupkan dan menjawab setiap kebutuhan Anda.
Matius 7:11, "Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."
Di tahun ini dan di waktu depan, Tuhan tetap sanggup menjadi satu-satunya sumber kehidupan kita yang sejati.


0 Comments